SMKN 1 Bandung Membuat Perangkat Pembelajaran Tefa

SMKN 1 Bandung Membuat Perangkat Pembelajaran Tefa

SMKN 1 Bandung Membuat Perangkat Pembelajaran Tefa

SMKN 1 Bandung akan membuat perangkat pembelajaran Teaching Factory (Tefa) yang sekarang dalam tahap sosialisasi dan pendampingan kepada guru-guru pemasaran di SMK Kota Bandung. Kegiatan ini langsung dipandu oleh narasumber nasional, Nanang Yusuf Nurdin yang mendampingi dalam tahap pertama selama lima hari.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Ahmad Hadadi mengapresiasi salah satu program unggulan ini dalam rangka refitalisasi SMK. Bahan pembelajaran siswa perlu disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Selain itu, ia mengungkapkan pada proses di sekolah harus disesuaikan, sehingga terdapat beberapa usaha praktek kerja industri.

“Diharapkan para lulusan SMK ini akan sejalan dengan kebutuhan dunia usaha

dan dunia industri,” ujar Hadadi saat di temui di SMKN 1 Bandung, Jalan Wastukancana, Kota Bandung, Selasa, 14 Agustus 2018.

Ketua Pelaksana Tefa sekaligus Ketua Prodi Jurusan Pemasaran SMKN 1 Bandung, Teti Heryati mengjelaskan bahwa SMKN 1 Bandung telah mendapatkan bantuan dari Direktorat untuk program Tefa. Program ini dibuat untuk siswa jurusan pemasaran. Teti juga menyebutkan sosialisasi ini berjalan selama satu hari dan untuk pembuatan perangkat pembelajaran berjalan selama dua hari.

“Model pembelajaran yang diterapkan berbasis pada produk atau jasa

yang disesuaikan dengan standar dunia industri,” ujar Teti.

Teti juga menyebutkan tujuan dari program Tefa adalah adanya keselarasan antara dunia industri dengan sekolah. Tefa disusun sesuai dengan kompetensi lulusan SMK. Kompetensi yang digunakan adalah gabungan-gabungan dari beberapa kompetensi seperti, jasa pelayanan, jasa pengemasan, jasa pelebelan, mempromosikan, sampai pada menghasilkan suatu produk.

Harapan Teti program Tefa ini mendapat dukungan semua pihak

dan dapat diterima seluruh masyarakat, khususnya di Bandung. Bagi siswa program ini akan meningkatkan kompetensi dasar yang mereka miliki. Lebih nyata dan sesuai dengan standar dunia industri.

 

Sumber :

https://danangtrip.net/indonesian-exams-too-hard-students-want-to-die/