Menikmati Ragam Budaya Indonesia di Rumah Topeng Setia Darma

Menikmati Ragam Budaya Indonesia di Rumah Topeng Setia Darma

Menikmati Ragam Budaya Indonesia di Rumah Topeng Setia Darma

Kemendikbud — Kunjungan Budaya atau Cultural Visit sebagai salah satu rangkaian kegiatan World Culture

Forum (WCF) 2016 mampu menarik perhatian peserta WCF 2016. Terlebih lagi, dalam Kunjungan Kebudayaan, para peserta disuguhkan beragam pertunjukan kesenian Indonesia dari berbagai daerah tanah air, khususnya saat berkunjung ke Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma di Gianyar, Bali.

Pertunjukan diawali dengan penampilan anak-anak finalis Festival Tari Anak Nasional yang mempersembahkan Tari Tor-Tor Marmeam-Meam, tarian tradisional dari Sumatera Utara. Tarian tersebut dipersembahkan untuk menyambut kedatangan para peserta di Lapangan Tengah Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma. Usai menyaksikan Tari Tor-Tor Marmeam-Meam, para peserta berkeliling ke enam pendopo di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma yang memamerkan bermacam-macam topeng, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

 

Di Pendopo Blora, misalnya, pengunjung disuguhkan berbagai topeng dari Afrika, Meksiko,

dan Jepang. Kemudian di Pendopo Bojonegoro terdapat bermacam-macam wayang golek Indonesia, wayang gantung dari India, dan wayang tongkat dari Italia. Setelah berkeliling, para peserta menyaksikan pertunjukan Tari Topeng, lalu pertunjukan Barong yang diiringi musik dari seniman Bali, Balawan. Ada juga tarian tradisional dari Papua, yaitu Tari Menembus Kegelapan. Dalam tarian ini para penari mempertahankan keaslian adat Papua, dengan mengenakan koteka saat menari.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid mengatakan, berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan dalam Kunjungan Kebudayaan di hari pertama World Culture Forum 2016 tersebut bertujuan untuk memperlihatkan ekspresi budaya Indonesia kepada dunia.

 

“Selama ini kita melihat ekspresi artisitik hanya dekorasi budaya. Padahal di situ ada statement

tentang kehidupan, tentang manusia. Kita seharusnya bisa mendengarkan lebih banyak suara di dalam masyarakat. Indonesia adalah sebuah negara yang menghargai keragaman sebagai kekuatan. Ini negeri yang terdiri dari ratusan etnis, bahasa, pulau, tapi kita tetap bisa bersatu. Itu yang kita tawarkan kepada dunia, kemampuan mengelola semua budaya itu, tentu saja dengan segala masalah yang ada,” ujar Hilmar di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma, Gianyar, Bali, (10/10/2016).

Ia berharap, para peserta World Culture Forum dan forum pendukungnya, yaitu International Youth Forum (IYF) dan International Folk Dance Festival (IFDF) dapat menikmati budaya Indonesia selama penyelenggaraan World Culture Forum di Bali.

Belkhatir Mohamed, peserta IYF dari Belgia mengatakan, ini merupakan kunjungan pertamanya ke Indonesia. Sebelumnya, ia telah mendengar bahwa Indonesia adalah negara yang indah. “Saya baru dua hari di sini, dan dua hari itu menjadi dua hari yang terbaik selama berada di Indonesia,” katanya. Ia berharap dengan menjadi peserta IYF, ia dapat menemukan budaya baru dan ide untuk mengembangkan budaya dan pariwisata di negaranya.

Seperti halnya Mohamed, Victoria, peserta International Folk Dance Festival dari Polandia juga baru pertama kali datang ke Indonesia. Setelah menyaksikan beragam pertunjukan kesenian, ia mengaku sangat menyukai budaya Indonesia. Victoria yang merupakan penari itu juga sedang menyiapkan tarian kolaborasi dengan peserta IYF lainnya dari negara lain. Mereka akan menampilkan hasil kolaborasi tarian tradisional antarnegara dalam pertunjukan seni dalam rangkaian World Culture Forum 2016, pada 13 Oktober 2016

 

Baca Juga :