Genjot Pendapatan UMKM dan Pasar Tradisional

Genjot Pendapatan UMKM dan Pasar Tradisional

Genjot Pendapatan UMKM dan Pasar Tradisional

Jakarta, Kominfo

Pemerintahan Indonesia berupaya mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat mengembangkan jangkauan bisnis melaljui internet. Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut upaya itu sebagai ‘Go Online‘. Sejak tahun 2014, ditargetkan sebanyak 8 juta pegiat UMKM akan dapat memanfaatkan internet untuk mengembangkan bisnisnya pada tahun 2019.
“Tahun lalu tercatat 4,6 juta UMKM yang masuk ke marketplace. Sekarang  sudah ada 10,35 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), nelayan dan petani yang terhubung dengan platform digital,“ ujar Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan dalam Bincang Online Tok Tok

Kominfo Episode 11: ‘Kepoin Ditjen Aptika’, di Jakarta, Selasa (22/01/2019).

Dirjen Semuel menjelaskan, UMKM Go Online tidak sekadar mendorong pegiat UMKM masuk dalam marketplace. Lebih dari itu, program itu diharapkan dapat memanfaatkan kondisi ekonomi terkini yang dikenal sebagai sharing economy atau ekonomi era berbagi untuk menggenjot pendapatan pelaku UMKM dan pedagang di pasar tradisional.
“Coba kita bayangin kalau dulu UMKM ini ingin jualan barangnya, dia harus punya toko, kemudian menyewa tempat, berapa banyak uang yang dikeluarkan? Sekarang kalau mereka tidak mau punya websitenya, mereka bisa menaruh barangnya di marketplace-marketplace. Inilah yang kita dorong supaya makin banyak UMKM yang bisa memanfaatkan teknologi. Para pedagang pun bisa jualan lewat layanan-layanan lainnya, misalnya dengan memanfaatkan fitur yang di aplikasi go-jek,” jelas Semuel.
Meskipun target terlampaui, Pemerintah akan terus mendorong agar pelaku UMKM semakin banyak memasarkan produk di marketplace. Selain dapat meluaskan pasar dan meningkatkan pendapatan, marketplace dapat menjadi etalase yang tepat untuk mempromosikan produk Indonesia.
“Kenapa kita dorong? Kita mau mengajak UMKM untuk naik kelas. Bisa dua kali lipat pendapatannya. Contoh, jaman dulu sebuah perusahaan taksi itu hanya konglomerat yang bisa naik, sekarang setiap orang yang punya kendaraan, itu dicap menjadi usaha taksi. Para pelaku usaha pun bisa jualan lewat layanan-layanan lainnya, misalnya dengan memanfaatkan fitur yang ada di aplikasi gojek,” ucapnya.
Dirjen Aptika menyatakan pemanfaatan platform digital oleh pelaku UMKM akan dapat membantu UMKM memasarkan produknya dari rumah. Bahkan, ia mengharapkan akan dapat tumbuh startup digital baru di Indonesia. “Saat ini seorang ibu rumah tangga bisa memasarkan produknya melalui gerakan aplikasi berjualan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Dirjen Semuel menyebut gerakan UMKM Go Online akan dapat menopang realisasi prediksi mengenai ekonomi Indonesia yang akan menjadi negara terbesar keempat di dunia di tahun 2030.  “Secara size ekonomi-nya dan menjadi negara kelima di tahun 2030. Ini semua hanya bisa tercapai apabila Indonesia bertransformasi menuju era ekonomi digital. Kita membuka semua peluang-peluang itu supaya di era ekonomi digital ini kita bisa benar-benar hadir dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya masyarakat kepada masyarakat,” paparnya.

Kembangkan Pasar Tradisional

Selain UMKM Go Online, saat ini Kementerian Kominfo juga tengah fokus ungtuk mengembangkan pasar tradisonal. Berbagai terobosan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai enabler dilakukan untuk membantu pasar-pasar tradisional.
“Apa sih yang bisa dibantu di pasar tradisional? Contoh pertama, uang tidak perlu lagi pakai cash. Ibu-ibu tidak perlu lagi mikirin kembalian, apalagi uang-uang di pasar banyak bersentuhan dengan orang, maka bakterinya juga banyak. Kalau saja di tiap-tiap warung itu ada QR codenya tinggal di klik, nominalnya muncul langsung di transfer jumlahnya,” ungkap Dirjen Semuel menjelaskan tentang peluang bagi pembayaran digital.
Selain bisa menggunakan sistem digital dan online, pedagang pasar tradisional juga akan didorong untuk memanfaatkan teknologi digital seperti website. “Kedua, bagaimana di pasar-pasar tradisional itu punya website? Jadi ibu-ibu atau bapak-bapak dan siapapun yang ingin ke pasar, dia bisa lihat dulu berapa harganya? Bagaimana kondisinya? Mudah-mudahan berjalan lancar karena ini bergayung sambut sebab asosiasinya dan juga pelaku pasarnya sudah antusias,” tutup Dirjen Aptika.